Efek Samping Kebiri Kimiawi

Efek Samping Kebiri Kimiawi

Obat Kanker Prostat Stadium 4Hukuman kebiri kimiawi telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Perppu tersebut telah ditandatangani dan diumumkan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu sore, 25 Mei 2016. Kebiri kimiawi dengan menggunakan suntikan dilakukan dengan obat jenis Zaladex dan Tapros. Fungsi obat itu  untuk menurunkan hormon testosteron atau hormon laki-laki yang memiliki pengaruh terhadap libido.

Menurut ahli urologi, Nur Rasyid, penyuntikan ini punya masa berlaku yaitu tiga bulan. Selama masa hukuman maka pelaku mendapatkan suntikan kebiri kimiawi. Rasyid mengatakan, penggunaan dua jenis obat itu telah umum dilakukan para dokter di Indonesia untuk pasien kanker prostat. Dia mengakui, penggunaan obat kimiawi itu punya efek samping, karena hormon testosteron menurun.

“Efek sampingnya ya jadi gampang lemas, cepet capek, semangat jadi menurun,” kata dia. Setelah mendapat suntikan kebiri kimiawi itu, maka pasien akan mengalami kekurangan hormon seksual pada pria atau disebut andropause. Selain efek samping kondisi tubuh itu, Rasyid mengatakan, karena andropause maka efek yang terlihat yaitu berubahnya beberapa anggota tubuh pria yang dikebiri.

“Payudara (pria) dan perut jadi besar, jadi tambah buncit. Tapi dia enggak akan jadi cewek-cewek banget,” katanya.
Staf pengajar Sub Bagian Urologi di Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia- Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta itu mengatakan, praktik kebiri kimiawi, meskipun baru berlaku di Indonesia untuk pertama kali, bukanlah hal yang rumit. Sebab para dokter sudah melakukan hal yang mirip pada pasien kanker prostat.

“Enggak ada masalah itu (kebiri kimiawi). Mudah. Semua dokter (ahli) bisa lakukan itu. Memang ada kontroversi, ada yang setuju, ada yang tidak. Tapi begitu diberlakukan, itu pasti ada yang mau kerjakan itu,” ujarnya. Rasyid mengatakan, untuk persiapan melakukan kebiri juga bukanlah hal yang rumit. Dokter tinggal mengecek kesehatan pasien. “Pengecekan standar tidak seperti pengecekan di laboratorium. Enggak ada sesuatu yang sulit. Begitu pengadilan putuskan itu, sudah siap (dilakukan kebiri)” kata dia.

“Di antaranya akan berpengaruh pada fungsi hormon sekunder laki-lakinya akan jadi hilang. Dia akan jadi seperti perempuan. Kalau waria senang biasanya karena akan muncul sifat-sifat perempuannya, misalnya payudara bisa membesar, tapi tulang mudah keropos. Itu kan membunuh juga kan namanya,” kata Wakil Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr Eka Viora, Sp KJ(K) di Jakarta.

Eka menambahkan, pernyataan hukuman kebiri bermanfaat untuk menakuti pelaku agar muncul efek jera, bukan hal yang tepat. Dia berpendapat, sanksi pidana dan sanksi sosial cukup untuk memunculkan efek jera.

“Yang utama adalah pendampingan pada masa hukuman agar pelaku menyadari kesalahannya, menyesali, dan tidak mengulangi perbuatannya di kemudian hari. Tidak perlu ditakut-takuti dengan cara itu, seumur hidup kan bisa. Kita akan dampingi dia,” katanya.

Sebelumnya, laman berita CNN melaporkan, hukuman kebiri bukan hanya berdampak secara sosial karena cara ini memiliki efek samping, seperti osteoporosis, perubahan kesehatan jantung, kadar lemak darah, tekanan darah, dan gejala yang menyerupai menopause perempuan.

Sementara itu, Wakil Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr. Eka Viora, Sp.KJ(K) menerangkan bahwa efek samping dari obat yang digunakan pada tindakan kebiri kimia akan mempengaruhi banyak sekali sistem tubuhnya.

“Diantaranya akan mempengaruhi fungsi hormon sekunder laki-lakinya akan jadi hilang. Dia akan jadi seperti perempuan. Kalau waria senang biasanya karena akan muncul sifat-sifat perempuannya, misalnya payudara bisa membesar, tapi tulang mudah keropos. Itu kan membunuh juga kan namanya,” terang dr. Eka Viora

Menanggapi pertanyaan media bahwa hukuman kebiri bermanfaat untuk menakuti pelaku agar muncul efek jera, dr. Eka Viora menilai bahwa itu bukan hal yang tepat.

Menurutnya sanksi pidana dan sanksi sosial cukup untuk memunculkan efek jera. Yang utama adalah pendampingan pada masa hukuman, agar pelaku menyadari kesalahannya, menyesali, dan tidak mengulangi perbuatannya di kemudian hari. “Tidak perlu ditakut-takuti dengan cara itu, seumur hidup kan bisa. Kita akan dampingi dia,” tandasnya.

Posted by: Obat Kanker Prostat Stadium 4

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s